Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Laporan Praktikum Ilmu Pemuliaan Ternak Standarisasi

Laporan Praktikum Ilmu Pemuliaan Ternak Standarisasi - Hallo sahabat Indoternak !! Sesuai judulnya, Artikel yang anda baca ini "Laporan Praktikum Ilmu Pemuliaan Ternak Standarisasi", telah kami siapkan dengan baik untuk anda baca dan untuk anda ambil informasi didalamnya. Mudah-mudahan artikel lainnya pada kategori Artikel Laporan, Artikel Tugas, juga bisa anda baca dan dapat anda pahami.

Judul : Laporan Praktikum Ilmu Pemuliaan Ternak Standarisasi
Link : Laporan Praktikum Ilmu Pemuliaan Ternak Standarisasi

Ini Juga Bisa Anda Baca


Laporan Praktikum Ilmu Pemuliaan Ternak Standarisasi

Laporan Praktikum Ilmu Pemuliaan Ternak Standarisasi

Standarisasi adalah usaha untuk menyeragamkan data yang homogen. Standarisasi dilakukan untuk mempermudah dalam perhitungan data (Hidayati, 2015). Standarisasi berdasarkan hasil perhitungan yang telah dilakukan diperoleh hasil sebagai berikut:
Tabel 1. Hasil Perhitungan Standarisasi
No
BLterkoreksi
BS100
BSterkoreksi
1
2,8
13,01
12,5
2
2,7
12,30
12,09
3
3,27
13,09
12,57
4
3,04
13,36
12,82
5
3,5
13,12
13,00
6
3,18
13,40
12,84
7
2,90
12,32
11,80
8
3,20
13,80
13,19
9
3,00
13,84
13,24
10
3,13
14,07
12,46
X
3,07
13,23
12,65
            Berdasarkan hasil praktikum standarisasi data yang diperoleh dapat diketahui rata-rata BLterkoreksi yaitu 3,07, BS100 adalah 13,23 dan BSterkoreksi adalah 12,65. Hardjosubroto (1994) menyatakan bahwa berat sapih merupakan indikator dari kemampuan induk untuk menghasilkan susu dan kemampuan cempe untuk mendapatkan susu dan tumbuh. Kecepatan pertumbuhan sangat menentukan efisiensi dan keuntungan usaha peternakan kambing karena erat hubungannya dengan efisiensi dan konversi penggunaan pakan. Berat sapih biasanya disesuaikan dengan berat cempe pada umur 100 hari. Penyesuaian umur dapat dilakukan terhadap umur tertentu atau rerata umur saat cempe disapih. Berdasarkan hasil praktikum yang dilakukan jika dibandingkan dengan literatur maka berat sapih dan berat lahir berada diatas kisaran normal literatur. Faktor yang mempengaruhi berat lahir dan berat sapih yang tinggi disebabkan oleh tingginya keragaman lingkungan yang tidak terkontrol yang terlibat dalam estimasi walaupun data yang dianalisis sudah dikoreksi terhadap faktor lingkungan. Berat lahir dan berat sapih dikoreksi dengan faktor jenis kelamin, umur induk dan tipe kelahiran.
Standarisasi perlu dilakukan agar data yang homogen dapat diseragamkan untuk mempermudah dalam pengolahan data. Standarisasi dapat digunakan untuk meningkatkan tingkat keakuratan data yang diolah. Hasil praktikum standarisasi faktor koreksi yang digunakan yaitu menggunakan jenis kelamin, umur induk dan tipe kelahiran. Kurnianto et al. (2007) menyatakan bahwa faktor koreksi yang biasanya digunakan antara lain tipe lahir, jenis kelamin, bobot lahir dan bobot sapih anak kambing PE. Berdasarkan faktor koreksi yang digunakan saat praktikum jika dibandingkan dengan literatur maka faktor koreksi yang digunakan sesuai dengan literatur. Faktor yang mempengaruhi berat lahir dan berat sapih antara lain umur ternak, jenis kelamin dan tipe kelahiran. Faktor yang mempengaruhi hasil dari standarisasi antara lain faktor koreksi, berat lahir, berat sapih dan jumlah data yang digunakan.
Data perlu distandarisasi pada umur 100 hari karena pada umur 100 hari data yang diperoleh memiliki nilai yang lebih akurat. Hardjosubroto (1994) menyatakan bahwa berat sapih merupakan berat pada saat anakan dipisahkan dari induknya. Kambing disapih pada umur 100 hari sehingga dapat diasumsikan ditimbang pada umur yang seragam yaitu umur 100 hari. Berat terkoreksi dapat diartikan bawa berat keseluruhan dibagi dengan jumlah data yang sudah ada sehingga memiliki nilai yang lebih akurat.
Berat sapih merupakan indikator dari kemampuan induk untuk menghasilkan susu dan kemampuan anak untuk mendapatkan air susu dan tumbuh (Hardjosubroto, 1994). Berat anakan saat disapih dipengaruhi oleh tipe kelahirannya. Hal ini disebabkan terbatasnya produksi susu induk, sehingga apabila induk melahirkan anak kembar maka produksinya menjadi terbatas. Berat sapih dipengaruhi oleh banyak faktor, namun yang paling dominan adalah faktor nutrisi yang sepenihnya berasal dari susu induk. Produksi induk dipengaruhi oleh umur dan pakan yang diberikan (Basuki et al., 1998).

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil praktikum standarisasi yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa standarisasi dilakukan untuk mengolah data atau menyeragamkan data. Rata-rata BS100 memiliki nilai tertinggi yaitu 13,23 dibandingkan dengan BLterkoreksi yaitu 3,07 dan BSterkoreksi yaitu 12,65. Faktor yang mempengaruhi faktor koreksi antara lain jenis kelamin, umur induk, dan tipe kelahiran.  

Terimakasih telah membaca Laporan Praktikum Ilmu Pemuliaan Ternak Standarisasi

Demikian artikel Laporan Praktikum Ilmu Pemuliaan Ternak Standarisasi ini, semoga bisa memberi manfaat dan tambahan informasi untuk anda semua. Jika ada pertanyaan silahkankan berikan komentar dibawah, sampai jumpa di artikel-artikel kami yang lain. Salam Sukses !

Artikel yang anda baca adalah Laporan Praktikum Ilmu Pemuliaan Ternak Standarisasi dengan alamat link https://www.indoternak.com/2017/11/Laporan-Praktikum-Ilmu-Pemuliaan-Ternak-Standarisasi.html

Post a comment for "Laporan Praktikum Ilmu Pemuliaan Ternak Standarisasi"